RSS

kesanku padamu adalah apa dan siapa aku


duduklah pada sore hari di tepian pantai teman, dimanapun itu!.
dan memandanglah kau jauh – jauh kedepan!.
maka yang akan jelas terlihat oleh matamu, sebuah garis lurus horizontal dengan diatasnya satu dua kapal – kapal bertabur, yang tak lebih dari ibu jarimu besarnya. diatasnya dengan tanpa terlihat gerakannya turun perlahan sang dewa surya dengan cahaya keemasannya. seolah menyapa kita dengan ucapan selamat beristirahat wahai manusia dan nikmatilah aku. dikanan kiri pandangan, akan tampak samar terhampar pulau – pulau dengan kerlap – kerlip lampu yang baru saja dinyalakan, merespon tenggelamnya sang surya tanda malam kan segera tiba.
Lalu mata ini akan dengan segera mengirimkan signal pada seluruh organ – organ dalam tubuh, untuk kemudian dengan segera menyimpulkan kesan yang terlihat dan tersirat. indah, memukau, ajaib, aneh, dan sebagainya – dan sebagainya. diiringi alunan ombak, terucap dari mulut kita SUBHANALLAH

atau duduklah kau pada malam hari di tempat lapang di malam purnama di manapun itu.
dan menengadahlah kau jauh – jauh ke atas!.
maka akan kau lihat sang bulan yang begitu sempurna dengan kehangatan sinarnya, ditabur bintang -bintang kecil yang tak beraturan seperti taburan kismis pada rotimu di sarapan pagi.
lalu mata ini lagi akan dengan segera mengabarkan pada seluruh penghuni tubuh ini, untuk kemudian lagi, akan dengan segera menyimpulkan kesan yang terlihat dan tersirat. diiringi alunan merdu paduan suara jangkrik – jangkrik yang tak kalah merdu dengan toalet orkestra sekalipun, terucap dari mulut kita lagi SUBHANALLAH.

Dua buah maha karya dari Tuhan Yang Maha Kuasa itu sudah sering dan bahkan terlalu sering kita lihat, jumpai dan rasakan. namun dengan tidak bosan bosannya kita akan lagi – lagi mengaguminya, lagi – lagi memujinya dan lagi -lagi mencari makna – maknanya.

tapi tentunya kita tahu, dua fenomena keindahan itu adalah jauh – jauh dan bahkan teramat jauh jaraknya dari dimana kita berada. dan sebagai manusia sangatlah manusiawi sifatnya jika ada diantara kita terbersit satu rasa penasaran karna terlalu berkesan atau terlalu mencintai, berusaha untuk lebih dekat dan lebih dekat lagi agar dapat lebih merasakan dan mencintai apa yang selama ini di simpulkannya.

dan tesispun menjumpai antinya.
bahwa yang kita simpulkan apapun itu, indah, mempesona, ajaib, unik, aneh, dan sebagainya – dan sebagainya, mungkin saja akan tetap dan sama indahnya. mungkin saja bahkan bertambah keajaibannya, berkurang, atau mungkin sirna, hilang tak berbekas kesan – kesannya.

Horizontal diseberang lautan ternyata adapun tidak, apalagi indahnya. Pulau – pulau kecil terhampar, ternyata penuh dengan sampah berserak dengan penduduk setempat yang tanpa etika.
dan bulan ? bulan ternyata adalah hanya segumpal bebatuan cadas tanpa udara, yang jangankan menikmatinya, menghirup saja sudah tak mungkin.

jadi, apa yang kita kemas dengan hati, rasa, dan otak kita adalah labil manakala waktu dan sifat keingin tahuan kita mendesak kita untuk lebih mendekat ke arahnya, walau dengan maksud untuk lebih mencintainya sekalipun, bertemu dengan kenyataan yang sedikit atau jauh berbeda dengan apa yang ada di rasa dan kepala.

apa dibutuhkan lebih dari sekedar rasa dan kecerdasankah, untuk tau dan peka membaca makna yang tersirat dari pandangan mata ini meski itu berjuta – juta mil jaraknya?.

sebuah pertanyaan terselip di benak ini mana kala memikirkannya. sesungguhnya apa yang sejatinya ku cari ?, ku ingini ? dan ku dambakan ?, dari apa yang telah kusaksikan?

tuluskah aku mencarinya ?, jujurkah aku meng inginkannya ?, ikhlaskah aku menerimanya ?, besarkah jiwaku untuk sekedar tak meninggalkannya?
ketulusan, kejujuran, keikhlasan, kebesaran jiwa, sebuah petualangan hati tingkat tinggi, yang filsuf dan sufi sekalipun pontang – panting, gulung koming menjalaninya, apakah itu faktor kuncinya?. sehingga dapat membatu jawab dari pertanyaan – pertanyaan ku itu ?, dan bagaimanakah dan apakah kita setelah ( pasca ) mengetahui bergesernya kesan dari yang diharapkan?. sekedar pelampiasankah kita pada yang kita tatap?, sekedar mengambil keuntungan darinyakah?, atau sungguh mencintai apa adanya?, atau kecewa dan terluka karna ketaksesuaian pengharapan?.sebuah pertarungan bathin maha dahsyat kemungkinan berkecamuk menghadapinya.

Tuhan memang maha kreator tak tertandingi.
keburukan bulan dan kedahsyatan bintang, serta bisingnya suara jangkrik, pada radius yang sangat terukur adalah suatu komposisi bentuk dan suara yang begitu harmonis. Dia padukan hamparan laut, pulau – pulau, kapal – kapal dan matahari di sore hari menjadi lansekap nan menawan diiringi riuh debur ombak yang berkejaran.
begitu indah menggores tinta -tinta sang penyair, kanvas – kanvas sang pelukis, dan lirik – lirik sang pujangga.
dan semua ada di tangan kita untuk menerimanya, atau menampiknya.
sekehendak kita.

” seni adalah permainan bebas berfikir “,
sedang tujuan, keinginan, dan proses, terus – menerus berlari, berbelok, tak peduli kapan berahir.

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: