RSS

senandung senja, di soto mbok giyem pagi hari.


Menyambangi nasib dibatasnya senja.
Mengukir, menggurat dengan cakar – cakar renta.
Lanjutkan Jejak eksistensi yang begitu dipaksakan.
Karena hidup tak banyak beri pilihan.

Sepenuh hati jari memetik dawai.
Ukulele tua, yang setia dipangkuan raja.
Raja dari hidup yang mulai lunglai.
Lunglai termakan waktu dan masa.

Tembangpun lirih, lambat mengalun.
Hampiri telinga – telinga dengan tekun.
Membasuh hati yg sudi singgah.
Teduhkan pagi kami dengan senjamu nan indah.

Soto ini tetap nikmat mungkin tanpamu.
Gurih dan sedapnya takkan luntur dari lidah – lidah tetamu.
Namun sebait lirik yang kau alunkan.
Mampu kendurkan wajah kami yang penat menunggu pesanan, sejukkan mulut kami yang menderita kepedasan.

Salam takzim buatmu dan ukulelemu.
Salam kagum buat tembang dan merdu suaramu.
bernyanyilah selalu lirih dan mendayu.
Tak guna cemaskan hari ya sombong terus berlalu.

Ajarkan kami, tentang makna hidup yang tak harus melulu berlari.
Bahwa diam tak juga berarti berhenti.

senandung senja, di soto mbok giyem pagi hari.
Damaikan hatiku, yang tengah gundah mencari.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: