RSS

stasiun dan nafas kecil itu


Nafas kecil, tiada resah.
Tak sadari akan hitam bayang merambah.
Hitam rel yang segosong kulitnya.
tetap kemilau dimata kecilnya.

Peron nan kumuh adalah taman bermain.
Gerbong – gerbong laksana rumah pohon beringin.
Sebatang es krim di tangan, yg terhirup bersama ingus dan liur.
Teriak emak, dan gangguan kakak, adalah simfoni nan indah dan sungguh teratur.

Apa yang harus di sedihkan?
Mengapa mesti di prihatinkan?
Sedang tawa melulu terurai.
Sedang hariku penuh bermain tanpa usai.

Masa depan jadi serumit karya picaso.
Ketika kedewasaan menyadarkan, bahwa miskin jadi sepekat dan sepedas kuah bakso.
Bersembunyi, disodomi, masuk bui, dan lalu mati.
Terbingkai di mimpi dan lekat di rajut – rajut gombal kusam penuh daki.

Stasiun ini, taman bermainku.
Gerbong ini, universitasku.
Miskin ini, tato di sekujur tubuhku.
Tapi esok hari, masih jadi milikTuhan ku.

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: