RSS

nazarudin, kekinian, dan kita


Kasus nazarudin, sesungguhnyalah bukan barang baru di negri ini. Sejak era orde baru, dan mungkin di orde lama, kasus seperti ini sudah kerap terjadi. Yang membuatnya jadi begitu fenomenal adalah kondisi kasus ini terjadi. Pers saat ini tidak sama dengan pers masa lalu. Jika dulu pers begitu bungkam, kini pers jadi begitu lantang. Dan suara rakyat dahulu sdh jauh berbeda dengan sekarang, dengan berbagai kecanggihan teknologi, serta kecepatan asupan informasi dgn kuantitas tak terbatas, menjadikan front begitu terbuka antara penguasa, dengan rakyatnya. Hingga munculah fenomena nazarudin yang tak mungkin ditemui di era sebelumnya.

Jika ini pengkambing hitaman, maka sejak dulupun sering terjadi. Hanya saja dulu hampir tak ada ruang dan celah yg disisakan sistem untuk dpt keluar dari jerat. Sistem (bobrok) yang terbangun tidak menemui banyak hambatan. Era keterbukaan belum menemukan momentum kecanggihannya, pembungkaman nyaman dilakukan.

Sangat berbeda dengan nazarudin dgn kekiniannya. Terlepas dr dia kambing hitam atau pun bukan, kemajuan zaman dengan fasilitas transparansinya dan kecepatan informasinya menciptakan begitu banyak celah, rongga, untuk berimprovisasi, berkreasi menyikapi hal yang menimpanya. Konspirasi, pemanfaatan, interfensi, jd begitu liat dan lugas tersuguhkan di mata rakyat.

Saya tidak sedang mempermasalahkan apakah nazarudin itu benar, pahlawan, korban, aktor utama atau hanya dimanfaatkan atau sebaliknya. Namun dengan yang kita tatap berhari – hari belakangan dilayar kaca adalah, bahwa harus kita sadari kisah yang hampir mirip sinetron ini bisa terjadi dikarenakan kemajuan zaman berikut kecanggihannya telah bermanfaat dan telah termanfaatkan dengan cukup kreatif (terlepas benar atau salah) dan berhasil menciptakan sosok fenomenal yang dari sisi kualitas moralnya sungguh patut dipertanyakan, apakah layak disebut “hero?”, victim? Atau justru aktor antagonis?

Yang menggelitik adalah, dengan keterbukaan yang sdh demikian terbukanya, dengan kemajuan zaman yg sudah begitu pesatnya, semestinya dapat menciptakan kondisi yang lebih dapat menunjang bagi terciptanya tatanan yang lebih baik. Di jepang seorang penumpang kereta tak akan ragu memastikan bahwa ia belum atau sudah terlambat untuk naik kereta, sebab kereta akan tiba sangat tepat sesuai jadwal, hingga hampir tak mungkin mencari alasan kemungkinan kereta itu datang lebih cepat, atau terlambat. Bahwa kemajuan zaman dengan kesegalaannya, seyogyanyalah dapat lebih memastikan sesuatu yang sebelumnya secara keilmuan belum dapat dipastikan.

Jika di era terdahulu seorang nazarudin terbelit kasus seperti saat ini, tak mungkin publik mendapatkan keadilannya (yg telah dirugikan akibat tindak korupsi). Namun di era kini, dengan segala kemajuannya, semestinyalah publik mendapatkannya dengan jauh lebih mudah. Akses kontrol terhadap kinerja, maupun berjalannya aliran – aliran dana rakyat sangat mudah didapatkan. Saat ini lawan main pemerintah berkuasa, adalah bukan saja koalisi di parlemen, tapi juga pers (media cetak, elektronik), lsm, ormas, bahkan kini ada jejaring sosial milik rakyat sedunia yg sudah terbukti kekuatannya mempengaruhi keadaan (gerakan koin, dsb). Lalu jika dengan semua kemajuan ini kita tetap terpuruk dan bobrok, apanya yang salah? dan dimana letak kesalahannya?.

Dalam sebuah rapat project, disebuah sesi (waktu itu masalah k3), menyikapi sebuah kejadian, seorang teman meminta kepada para kontraktor akan kesadarannya menghimbau kpd para pekerja untuk lebih berhati – hati terhadap beberapa hal. Waktu itu hal tersebut saya tolak, karena saya berfikir tak akan mungkin berjalan, dgn beberapa alasan. Alhasil himbauan tsb memang sama sekali tdk berfungsi.
Belakangan hal ini banyak didengungkan oleh para pembesar2 negeri ini. Bahwa carut marut dan kebobrokan ini disebabkan oleh sirnanya kejujuran, dan hati nurani yang sudah tertutup. Maka dihimbau para pejabat untuk berlaku jujur dan memakai “hati nurani” dalam berbuat.

Sama sekali hal ini tidaklah salah. Bahwa tata nilai, norma – norma haruslah tetap tegak, dan diperjuangkan untuk tetap dijunjung tinggi. Hanya saja cara untuk membuatnya tetap tegak sesuai kaidah apakah cukup hanya dengan menghimbaunya? Apakah akan kita serahkan nasib negeri ini dengan hanya memasrahkannya begitu saja, mempercayainya begitu saja kepada orang – orang yg sudah seharusnya tdk begitu saja kita percaya?. Aku seperti mempercayai seorang anak dapat berjalan, melepaskannya begitu saja, sedang ia baru saja memulai pelajaran berjalannya. Tidak memberinya samasekali fasilitas kemudahan yg dpt membuat anak itu mudah berjalan, dan gigih untuk dapat berjalan.

Seperit negeri lain, negeri ini hidup, menghidupi rakyatnya dengan suatu sistem yang dibentuk dan disepakati bersama para orang2 terpilih dalam bentuk undang – undang. Sistem sangat menentukan bagi keberlangsungan sebuah kerja. Salah satu saja komponen pada mobil, niscaya mobil tak sempurna berfungsi. Dengan akurasi sangat terukur pada sistemnya, kereta dijepang dpt tiba tepat pd waktunya. Pelaksanaan K3 di proyekku tersendat karna tidak ada sistem yg dibuat melainkan hanya memasrahlkannya pada himbauan. Bahkan seringkali ucapan presiden sby tidak dilaksanakan bawahannya dan perintah sby kpd nazarudin untuk pulang tdk diidahkan, kemungkinan karna sby tdk menempatkan ucapannya kepada sistem yg seharusnya dibuatnya (sengaja atau tdk sengaja).
Jadi mungkin saja kegagalan kita untuk menjadi baik sbg bangsa, kegagalan kita menjadi sejahtera di era maju ini, adalah kegagalan kita memnfaatkan majunya zaman untuk kemajuan bangsa. Ternyata kita tdk secerdik nazarudin memanfaatkannya.
Kita gagal membuat sistem yang berbasis pada hebatnya medernitas. Atau kita gagal sebagai rakyat untuk memilih manusia – manusia terbaik untuk mewakili kita, memimpin kita dalam berkancah menciptakan produk – produk yang memanfaatkan kemajuan zaman.
Manusia – manusia inilah yang sejatinya berkompeten dan bertanggung jawab terhadap kenapa nasib kita begini. Korupsi meraja lela sungguh tak lain karna sistem yg ada membuatnya sanggup untuk meraja lela. Kasus pemalsuan surat MK bs terjadi sungguh karna sistem memungkinkannya dapat terjadi.

Saya tdk percaya kalau di amerika tidak ada koruptor, tidak ada konspirasi. Bahkan mungkin justru di amerikalah ladangnya konspirasi. Namun disana ada sistem yang baik yang dapat menekan meruginya bangsa, menhambat dengan hebat gerak koruptor, mengarahkan konspirasi menjadi barang yg justru menguntungkan negeri.

Saya tidak percaya kalau semua orang jepang pintar2. Saya tidak percaya kl di jepang tdk ada yg bodoh, tak bermoral, dan korup. Namun dijepang dan amerika sanggup melahirkan, menghadirkan orang – orang pintar, bermoral, dan tdk korup yang mampu mewakili dan memimpin mereka menciptakan sistem yang baik.

Kelas menengah memiliki andil penting menentukan arah bangsa.. Karna di kelas inilah geliat pemikiran, kecerdasan, semangat, dan kemapuan bergerak sungguh berlimpah. Dikelas ini civil society terbentuk. Jadi bs jadi jaminan di negara yang kelas menengahnya kuat, aware, dan memiliki jiwa nasionalisme tinggi, masyarakat madani mudah terbentuk.

Tujuh dari sepuluh temanku yg berkesempatan belajar ke luar negeri, lebih memilih menetap disana (dgn berbagai alasan yg sdh dpt sama2 kita terka). Bahkan salah satu dr mereka rela mengganti denda perjanjian ikatan dinas dgn instansi yang telah menyekolahkannya. Mereka – mereka ini adalah sdm – sdm potensial dan merupakan kelas menengah yang seharusnya berpeluang untuk berkiprah membangun negeri ini. Apatisme ini bukan saja menghinggapi 7 temanku ini. Sindrome ini mungkin saja telah mengidap puluhan, ratusan, bahkan ribuan teman2 kita yang potensial.

Lalu bagaimana dengan kita?, apakah begitu kuatnya jiwa nasionalisme kita, sebegitu patrotiknyakah kita? Sehingga hingga hari ini kita masih setia mendiami republik ini. Atau sedang menunggu kesempatan ? Menanti celah yg hingga hari ini belum jg terbuka untuk kita enyah dr bumi pertiwi ini?. Apapun itu semua adalah pilihan, disebut penghianatpun kita, jika itu sdh kita pilih, dunia mau bilang apa?, toh memang negeri ini dengan tidak sadar telah dibentuk untuk membentuk jiwa2 apatis, tidak peduli. Bahkan dengan “kasus nazarudin” yg baru pertama kali terjadi, yg menurut sy gila2an pensandiwaraannya, banyak dr kita tetap tdk peduli. Walau sebagian orang pintar membacanya sbg momentum untuk membongkar tuntas kekorupan negeri ini, namun tetap, dgn jiwa kental “ewuh pakewuh”, kok ya masih bisa kita rasakan hukum tawar menawar, tukar – menukar, kompromi, demi kenyamanan bersama menghiasai sinetron “burung nazar” yg buka – bukaan ini.

Kita tinggalkan nazarudin dengan ke dahsyatan beritanya itu, saya nobatkan dia sebagai ” man of the year” lah untuk sedikit menghargai keberaniannya menentang badai yang mengg “anas”, dan ombak yang mengg “ibas”, meski tak tauku dia benar atau salah, korban atau penjahat. Yang penting buat q adalah ada pelajaran penting yg telah dilakukannya dan berhasil memonopoli situasi berhari, berminggu bahkan berbulan, perhatian kita, dr rakyat terkecil, hingga penguasa terbesar. Dengan memanfaatkan dengan cerdik (entah dia atau siapa aktor pembuat skenarionya) kekuatan pers,(walau mungkin saja dia yg telah dimanfaatkan pers) dan teknologi komunikasi dgn jitu. Kpk dan pengadilan jd kalah pamor, bukti2 jd spt lebih fair digelar media ketimbang dipengadilan, sebelum nazar tertangkap “persidangan pers” begitu cair. paska dia tertangkap, kalau boleh jujur, di hati dan kepala kita sebagian besar mulai merasuk apatisme, hhmm, yaah, paling jg begitu…ga mungkin begini dst..dst.

Jika saja kita mampu memanfaatkan kemodernan ini untuk kebesaran bangsa, saya kok yakin kita tdk akan jadi ayam yg mati di lumbung ini. Kenapa tidak kita mulai dari sisi kecil hidup kita. Saya yakin kita sepakat bahwa sistem yg baik akan menciptakan kerja yg baik, taat sistem pasti berbuah keberhasilan. Jgn berantas korupsi di kantor anda. Tapi usahakan pertahankan sistem yg sdh anda bangun. Dan sisakan sedikiit saja kepedulian kita kepada pertiwi. Mumpung panggilan luar negeri belum meminta anda pergi. Lebih bagus lagi jika terbersit niat untuk menolaknya pergi. Bahwa suatu hari nanti, jika bukan kita, generasi penerus kita haruslah bangga memiliki negeri seperti pertiwi ini.

Komunikasi sdh begitu terbuka, teknologi hampir tak tau lagi mau secanggih apa. Pasti ada cara membuatnya jadi teman kita yang membesarkan kita sebagai manusia, membanggakan kita sebagai bangsa.
Hal kecil yang paling mungkin kita lakukan adalah, mari kita manfaatkan keterbukaan ini, teknologi ini apapun bentuknya untuk dapat menghadirkan manusia2 pilihan yg dpt mewakili dan memimpin kita.

Mau tak mau, suka tak suka, ditangan merekalah kita pertaruhkan kelangsungan nasib negeri tercinta ini, kelangsungan nasib kita dan kelangsungan anak cucu kita. Kawan pasti lebih tau caranya.

Tanamkan sedikit arti, sebelum kau pergi.

Advertisements
 

One response to “nazarudin, kekinian, dan kita

  1. masdud

    August 19, 2011 at 4:32 pm

    Ngomong opooo jan? Wkwkwk

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: