RSS

mewajarkan pemakluman


Seringkali pemakluman kita dengar.
Mewajarkan sesuatu yang sesungguhnya sangat mungkin untuk tetap menjadi tidak wajar.
Dan menjalaninya serta menikmatinya bersama secara kolektif proporsional, tanpa ada rasa berdosa bahwa itu adalah pengingkaran kita terhadap ketidak makluman dan ketidak wajaran yang secara bulat tersepakat untuk menjadi sebaliknya.

Ketika duduk di sekolah dasar, ada satu moment yang sempat mengusik fikiranku berhari – hari yang pada ahirnya melahirkan pemaklumanku pada ketidak wajaran yang kusaksikan dan menjerumuskanku pada pembangunan mentalku dikemudian hari.
Ketika terjadi bencana di satu daerah (aku sudah lupa tepatnya), sekolah kami membuka kesempatan bagi para siswanya untuk berkontribusi membantu korban disana dengan cara mengumpulan apa saja yang dapat membantu dan sedikit meringankan penderitaan mereka. Diantaranya yang paling banyak adalah pakaian bekas, dan mie instan.

Pada satu kesempatan, di sebuah mata pelajaran, wali kelas kami memberikan tugas mencatat pelajaran yang di tuliskan seorang teman kami di papan tulis dari catatan sang wali kelas yang tidak ada di buku paket. Ditengah kami asik dan hening mencatat, dan ditengah kekosongan kegiatan beliau, beliau meninggalkan kami, dengan tanpa lupa berpesan bahwa “catatan ini penting, karna akan keluar pada test mendatang”, yang artinya kurang lebih, jangan berisik, dan jangan coba – coba untuk tidak mencatat.
Kurang lebih hampir satu jam beliau meninggalkan kami, dan ketika masuk ke kelas itulah moment yang pada ahirnya mengganggu fikiranku beberapa lama.
Dengan tanpa sengaja mataku melihat dengan begitu saja ke gerakan mulut sang guru. Yang jika ku deskripsikan jelas sekali seperti orang habis makan. Menghirup – hirup sisa – sisa kelezatan makanan. Entah kenapa aku jd tertarik dan tergelitik untuk mengetahui habis makan apakah guruku ini. Singkat cerita, ketika jam istirahat tiba, ku iseng – iseng menemui pembantu sekolah yang biasa mengurusi hal – hal repot dan melayani kepentingan guru- guru. Dan tanpa diduga kuperoleh jawaban dari apa yang kupenasarankan. ” Bukan dia aja mas, ampir semua guru tadi ampir bersamaan minta masakin mie sama saya. Udah biasa itu mah”. Ku pertegas pertanyaan ” mie dari murid – murid?, yang untuk disumbangin pak?”, dan diapun mengiyakan pertanyaanku tadi.

Di usiaku yang masih belia (11 tahun), telah terjadi peperangan nilai maha dahsyat dari peristiwa yang baru saja ku saksikan tersebut. Ada nilai – nilai yang masih fresh tertanam dan sedang giat – giatnya kubuahi, dengan begitu saja tercabut dari akarnya oleh orang yang setiap hari membantuku dengan sangat bersahaja menanamnya.
Dalam berhari, berbulan, bahkan bertahun, masih sulit bagiku untuk memahami paradoks dari prilaku guruku itu. Yang pada ahirnya seiring berjalannya usia disertai peristiwa – peristiwa yang kudapatkan yang notabene “sejenis” dengan kualitas yang kian besar, menjadikan pengaminanku pada pemakluman dan mewajarkan bergesernya nilai yang sesungguhnya dapat dijaga kestabilannya, namun menjadi tak perlu dijaga dengan alasan yang terkesan meremehkan ke istimewaan kita sebagai makhluk mulia.

Benih – benih yang pada ahirnya ku namai penyimpangan nilai itu telah menjadi bagian dari terbentuknya aku saat ini, juga dia dan jutaan mereka lainnya yang lahir dan mendiami negeri tercinta ini. Hampir tidak ada satupun kegiatan bermasyarakat, jual beli, kemanusiaan, bisnis, pekerjaan, apalagi kegiatan yang bersinggungan dengan birokrasi pemerintahan yang tidak mengalami pergeseran nilai, mengalami pemakluman, dan pewajaran.

Sadar atau tidak sadar, sejak dini, sejak sangat belia, putra – putri negeri ini telah ditanamkan satu tata nilai baru yang out of box, tidak ada di buku wajib, dan bahkan bertentangan dengan yang ada di buku wajib dan dimulut – mulut para pendidik. Dan boleh jadi, tata nilai baru inipun subur ditanamkan oleh orang tua – orang tua kita sendiri yang notabenen dalam bersosial, bekerja dan bermasyarakan tidak mungkin tidak untuk berlaku sesuai dengan apa yang berlaku. ” Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”.

Jadi jika pada hari ini kita saksikan banyak generasi muda penerus tongkat estafet kepemimpinan terjerat kasus korupsi besar, padahal beberapa diantaranya dulu lantang berteriak menentang, menurutku bukanlah sesuatu yang aneh, jika kita berani jujur berkata, bahwa nilai inilah yang sejak dini yang tertanam, dan bersemi di kepala dan sanubari anak – anak dinegeri ini.

Kian hari kian menjadi – jadi, dan tak satu sanggup mengingkari apalagi membuatnya berhenti. Maka jadi tak guna kita menghujat koruptor – koruptor yang bejat. Jika budaya ini ada di darah yang sungguh melekat.

Sekarang bukan lagi mencuri, tapi merampok, kini tidak lagi penipuan yang merajalela, namun sudah jadi kolektif kerja mafia.

Air mataku menetes menonton jakarta lawyers club malam ini. Momen dimana max sopacua dgn berapi menggagas penyekidikan perampokan pulsa. Karni ilyas dengan lirih bertanya
” kejadian sudah begitu lama dan telah begitu banyak memakan korban rakyat kecil, dpr baru teriak saat ini. Dimana kalian sebelumnya? Artinya dpr begitu jauh dari rakyatnya”.

Mereka hidup senang dan mewah dari pajak – pajak yang rakyat beri. Yang sebagian besar dari mereka masih hidup sangat menderita, termiskinkan pengelolaan negara yang tidak kunjung berhasil merubahnya. Dan kini justru berdiam diri, pura – pura tidak tahu dan mengerti, dan baru berteriak – teriak bak pahlawan kesiangan, ketika isyu baru mengemuka. Dimana kalian wahai pegawai – pegawai yang kami gaji, disaat seharusnya kalian layani kami yang telah memberimu kemewahan dan kenyamanan hidup yang jauh – jauh melebihi kami ?

Maka mungkin sebaiknya kita berhenti dahulu sebagai negeri, karna kian kemari kian nampak budaya pergeseran nilai ini, budaya pemakluman dan mewajarkan ini, telah menjadi bomm waktu maha dahsyat yang siap meluluh lantakkan setiap darah generasi yang lahir dan berkembang biak di negeri ini. Kian tak mungkin terkendali karna pasti kita takkan becus menghapus budaya yang sama kita amini sebagai virus namun nyaman dijalani dengan terus menerus.

Sudut masdud.wordpress.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: