RSS

sistem…sistem….sistem


Karena alasan pekerjaan, ahirnya aku harus menjadi warga kota depok (sementara). Dan sebagai tempat tinggal yg juga sementara, aku menyewa sebuah kamar di sisi jalan margonda raya.
Karena jarak yg begitu tanggung antara apartemen dan lokasi proyek tempatku bekerja, seringkali untuk mencapai lokasi, kutempuh dgn menggunakakan jasa ojeg. Dan untuk mendapatkan ojeg, aku harus menyeberangi jalan raya margonda.
Hal ini sesungguhnya bukanlah persoalan, ketika ada keteraturan, dan keseimbangan antara lebar jalan, jumlah kendaraan, dan fasilitas pendukung lalu lintas (marka, lalin, zebra cross, jembatan penyeberangan dsb…dsb), yang efektive sesuai kebutuhan serta kepatuhan dari pengendara dan penyeberang jalan, berjalan sebagai mana mestinya.
Sore itu karna kebutuhan perut aku bermaksud mencari makan di rumah2 makan pinggir jalan margonda. Seperti biasa pada jam2 pulang kantor lalu lintas margonda sangatlah padat. mobil dan motor melaju dengan kecepatan sebisanya (dimaklumi setelah lelah seharian bekerja, tentulah para pengendara itu sungguh ingin segera sampai dirumah). Dan rata2 kendaraan yang melintas pada jam itu adalah kendaraan yang berasal dari jarak yg cukup jauh dan menuju tempat yg juga cukup jauh (dapat dibayangkan betapa penatnya, untuk pengendara motor beta panasnya tuh bokong).
Diseberang nampak seorang perempuan berkerudung hendak menyeberang. Dari tas dan buku yg dia bawa tak salah pasti dia mahasiswi ui yg baru pulang kampus. Dia berdiri tepat diatas “zebra cross”. Dengan sedikit ketakutan karna begitu riuhnya kendaraan, dia berhasil menyeberangi saparuh jalan, dan kini dia berada di trotoar pembatas dua lajur. Kini saatnya untuk dia menyeberang ke lajur satunya lagi.
Kesempatan itu datang, jalan di depannya kosong. Mobil2 dan motor2 cukup jauh untuk menginjak rem ketika harus berpapasan dgnnya. Diapun melangkah dgn hati2 bercampur takut. Beberapa mobil dan motor terdepanpun mengurangi kecepatannya, memberi jalan baginya.
Hingga disini situasi masihlah aman, harapanku, sang mahasiswi segera dapat melalui jalan yg sungguh ramai itu. Namun hari itu kisah bukanlah manis untuk si gadis. Apa mau dikata, ketika separuh lagi dia sampai ditepi, sebuah motor rx king (yg semestinya menurutku sdh tdk boleh dikendarai lagi, karena bising dan polusi udaranya), tiba2 saja muncul dari balik mobil2 yg telah berhenti, dengan begitu cepatnya. Entah dia terlalu terburu, entah memang tololnya yg tdk memahami mengapa mobil2 didepannya berhenti. Sehingga dgn tanpa firasat dia tetap menarik gas sekuat tenaga. Yg pedihnya, kemunculannya tepat menghantam sang mahasiswi, yg menurut dugaanku hanya tinggal beberapa meter lagi sampai di kostan atau rumahnya.
Motorpun menabraknya, dan karena kecepatan yg begitu tinggi, serta kemungkinan di saat2 sebelum benturan dia berusaha menghindar, ahirnya motor itu terpental cukup jauh. Sang mahasiswi terjatuh, dengan paras menahan sakit yg teramat dalam, serta luka2 yg nampak begitu perih. Pengendara motor itu tak kalah parahnya, bahkan nampak lebih parah. Dia terpental dari motornya dan berguling cukup jauh. Semua orang disekitar dgn spontan menghampiri kedua korban untuk segera menolong. Sang wanita ternyata masih sadar dan masih sanggup berjalan dgn di papah. Namun tidak dgn sipengendara, dia sdh tdk sadarkan diri. Benturan dan terlontarnya ia dr motor hingga berguling, pastinya menimbulkan benturan dikepalanya. Dia “koma” nampaknya.
Aku terpana, pikirku berkecamuk. Hinggap dikepalaku mimik letih sang mahasiswi yg pastilah pada saat sebelum kejadian, yang ada dikepalanya tak lain adalah, kamarnya, nyalakan tv, bermalas sejenak, lalu ritual selanjutnya adalah kamar mandi, shower, atau berendam di bath tube. Setelah segar sedikit berdandan seadanya, kemudian dia akan membuka toples2 camilan, mengambil majalah atau catatan2 kuliah, berselonjor di ranjangnya yg empuk sambil tangan memencet tombol remote tv atau menyalakan musik dari laptopnya.
Tak jauh berbeda kurasa dgn mahasiswi itu, hal yg hampir sama juga ada di kepala si pengendara motor. Laju kencang kendaraannya bukan saja lantaran dia hoby berkendara cepat, namun mungkin juga dia ingin segera sampai dirumah, menyapa istri dan menggendong anaknya yang sedang lucu2nya. Kecamuk dipikirannya membuatnya salah perhitungan, dan terjadilah peristiwa naas tersebut.
Lantas pertanyaan ku adalah mengapa peristiwa itu harus terjadi? Takdirkah? Ya takdir. Namun pastinya ada tindak antisipatif untuk sekedar menghindari hal tersebut terjadi, walau lagi2 takdir juga yg menentukan.
Si mahasiswi jelas tidak bersalah, karna dia menyeberang tepat diatas “zebra cross yg disediakan untuk pejalan kaki menyeberang jalan. Kesalahan boleh jadi ada pada si pengendara yang tidak cermat dan peka saat melihat kendaraan didepannya berhenti, walau dia tidak melihat ada penyeberang jalan hendak melintas.
Namun jika kucermati lagi, dengan melihat volume kendaraan, serta riuh ramainya jalan protokol satu2nya di depok ini, keberadaan zebra cross untuk penyeberang jalan tidak lah cukup. Kecenderungan bagi pengabaian oleh pengendara sangat rentan. Bahkan seringkali (motor khususnya) lebih memilih tetap melajukan kendaraannya, dengan mencari sisi kosong, walau didepannya jelas terlihat ada penyeberang yang sudah berada ditengah jalan.
“Traffict light” (lampu merah) menurutku adalah sarana yg baik untuk mengurangi dan menghindari kasus2 penabrakan ini. Dengan rambu ini semua pengendara akan segera dapat melihat tanda walau dia masih berjarak ratusan meter. Dan penyeberang, akan tidak ragu2 saat dimana dia harus menyeberang atau menunggu. Sarana lain tentunya jembatan penyeberangan. Sarana ini jauh lebih aman tentunya karna sama sekali menghindari kontak langsung pengendara dengan penyeberang jalan. Jumlah lampu merah dan jembatan penyeberangan di sepanjang jalan ini sangat minim (coba deh skali2 kalau lewat jalan ini kamu itung).
Dan terahir tentunya adalah membuat sistem yg baik dan dpt dijalankan dan dipatuhi oleh petugas dan pengguna. Belajar dari jakarta, banyak sarana, fasilitas, dan sistem yang baik namun tidak banyak manfaat, cenderung dilanggar dan diabaikan.
Sebagai kota yg sedang mencoba bergeliat dengan luas yg jauh lebih kecil dari jakarta, dengan penduduknya yg masih bersemangat dengan kedisiplinan, depok tentunya dapat lebih baik dalam menjalankan sistem yang baik.
Tulisan ini hanya berangkat dari semangat kecintaan pada hidup, pada keselamatan, dan pada kedamaian. Bahwa dengan sedikit saja inovasi, dan keinginan, kita dapat merubah sesuatu yang sebelumnya tidak kita bayangkan. Kita dapat memperkecil kesalahan dan menghidari ketidak nyamanan.
Sering kali kita pandai membuat sistem, menkajinya hingga matang, namun tidak taat dalam menjalankannya. Improfisasi lebih disukai dinegri ini. Menghadapi sesuatu dengan tanpa pegangan, panduan, dan pedoman.
Sebagai seorang yg bekerja pada proyek2, akupun tak mampu untuk menanamkan pada para pekerja betapa bahayanya jika dia bekerja pada ketinggian tanpa pengaman apapun yg menjaganya tetap diatas.
Dan banyak lagi hal jika kita cermati berlaku di negri ini yg menurutku telah menorehkan sejarah keterpurukannya sendiri, lantaran keengganan, kemalasan atau bahkan kesengajaan untuk tidak menaati, mengabaikan dan meninggalkan sistem yg dibuatnya sendiri dan disepakati.
” Seekor kuda dapat berlari cepat karna menggunakan empat kakinya. Entah apa yg menimpanya manakala dia abaikan satu kakinya saja, dan berlari hanya dengan tiga kaki.”

Masdud

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: